Tagar.id, Yogyakarta – Umat muslim yang menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan ini pasti sangat merindukan malam Lailatulkadar. Sebuah malam turunnya wahyu Allah, yakni pada malam gasal bulan Puasa sesudah tanggal 20, yang apabila seseorang beramal kebaikan pada malam itu, pahalanya akan dilipatgandakan.

Sebuah malam yang teramat istimewa, malam dengan kadar lebih baik dari 1.000 bulan, atau 83 tahun 3 bulan. Lalu bagaimana cara menjemput malam terbaik itu?

Lailatulkadar sedemikian agung sehingga tidak terjangkau oleh nalar manusia. Malam penuh magfirullah. Seperti dalam ayat kedua Alquran Surat Al-Qadr berbunyi وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? لَيۡلَةُ الۡقَدۡرِ  ۙ خَيۡرٌ مِّنۡ اَلۡفِ شَهۡرٍؕ Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.

Datangnya malam Lailatulkadar tidak seorang pun yang mengetahui tepatnya kapan. Selama ini umat Islam hanya bisa membaca tanda-tanda malam itu. Betapa mulianya malam Lailatulkadar sebab mampu membawa seorang hamba pada ketakwaan yang hakiki.

Pengasuh pondok pesantren Krapyak, Yogyakarta Hilmy Muhammad mengungkapkan, malam Lailatulkadar dapat diraih oleh siapa saja yang sungguh-sungguh beribadah selama Ramadan. Ibadah yang dilakukan tidak hanya ibadah di masjid, tetapi bisa dilakukan di mana saja.

Tokoh Nahdatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta ini mengungkapkan, meskipun saat ini pandemi wabah virus Corona masih berlangsung, namun malam lebih baik dari seribu bulan ini bisa dijemput. “Bisa di rumah, dalam bentuk salat tarawih, salat malam, atau membaca Alquran, mujahadah atau selawat,” kata Gus Hilmy, sapaan akrabnya.

Menjemput malam Lailatulkadar bisa juga dalam bentuk-bentuk ibadah yang bukan ritual, seperti belajar, berdiskusi atau mengajar atau mempelajari kajian-kajian agama. “Bisa juga dalam bentuk ibadah sosial, bersedekah atau berkunjung dan silaturahim mempererat hubungan kekeluargaan dan pertemanan,” ucapnya.

Anggota Dewan Perwakilan Darah (DPD) RI ini mengungkapna, pemahaman Lailatulkadar hanya bisa diraih dengan iktikaf ternyata kurang tepat. “Lailatulkadar itu jangan dipahami hanya bisa diraih dengan iktikaf, tapi bisa dicapai dengan ibadah apa saja, asal itu baik, benar dan ikhlas. Demikian juga tidak harus di masjid tempatnya, tapi bisa di mana saja,” ujarnya.

Bisa di rumah, dalam bentuk salat tarawih, salat malam, atau membaca Alquran, mujahadah atau selawat.

 

Pemilik Pondok Pesantren Nurul Ummahat Kotagede, Kota Yogyakarta KH Abdul Muhaimin mengungkapkan, menjemput malam Lailatulkadar tidak sekedar puasa secara fisik. Umat muslim harus terhindar dari maksiat mulut maksiat tangan hingga maksiat hati. Hal itu sudah dipersiapkan sejak bulan Rajab (awal puasa) sampai Syakban (akhir puasa).

“Untuk mendapat malam Lailatulkadar tidak bisa kita langsung menunggu malamnya saja. Harus ada proses ritual yang sangat rumit dan sangat panjang baru kita bisa memperoleh malam Lailatulkadar,” katanya di Yogyakarta, Jumat, 15 Mei 2020.

Menurutnya, ciri- ciri orang yang memenangkan malam Lailatulkadar akan lebih baik secara moral. Misalnya akan lebih menjadi seorang yang pemaaf, lebih murah hati, juga rendah hati. Secara sepiritual keinginan-keingin yang muncul dalam lubuh hati manusia itu adalah keinginan baik.

Muhaimin mengatakan, orang yang mendapat malam Lailatulkadar bisa mencapai Ulul Albab. “Setiap keinginan selalu baik. Baik untuk Hablu Minanas maupun Hablu Minallah,” ujarnya.

Terkait keistimewaan dari malam Lailatulkadar tergantung bagaimana prespektif cara manusia itu menilai. Jika untuk tujuan ibadah, ada reward atau penghargaan paling tinggi di malam Lailatulkadar. Sebab ada pahala yang dilipatgandakan oleh Allah. “Saya pun belum tentu puasa sekian puluh kali mendapat Lailatulkadar. Kok nyatanya puasa saya belum bertambah baik,” ucapnya. []